Tag: Sejarah Masjid

Keindahan Masjid Mantingan

Keindahan Masjid Mantingan

Keindahan Masjid Mantingan – Keberadaan Masjid Mantingan yang terletak di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, tidak lepas dari sejarah panjang penguasa Jepara, Ratu Kalinyamat. Masjid yang dibangun oleh Ratu setelah meninggalnya Sultan Hadlirin ini merupakan salah satu warisan budaya yang dilindungi. Meski telah mengalami beberapa kali renovasi, Masjid Mantingan tetap mempertahankan gaya arsitektur zaman Hindu Budha serta ornamen panel berukir yang ditempel di dinding masjid.

Dalam penuturan masyarakat setempat, kawasan Mantingan sudah ada sejak jaman Majapahit, dan merupakan salah satu kawasan suci bagi masyarakat Jawa. Dalam bukunya H.J De Graff dan Pigeaud disebutkan bahwa Mantingan adalah kediaman Syeh Jumadil Kubra. Bahkan dalam beberapa babad, Sunan Kalijaga termasuk salah satu yang sering bersemedi di daerah Mantingan. Tercatat dalam Babad Meinsma (1874: 48), Sunan Kalijaga datang terlambat di Demak pada saat pendirian toko guru di Masjid Demak.

Dalam babad itu tertulis bahwa Sunan Kalijaga datang terlambat di Demak karena sedang melakukan tirakat di Mantingan (tirakat dhateng ing Pamantingan).Dalam beberapa catatan sejarah disebutkan bahwa Masjid Mantingan dibangun oleh Ratu Kalinyamat sepuluh tahun setelah meninggalnya suami tercinta, Sultan Hadlirin. Hal ini didasarkan pada mihrab masjid terdekat yang dapat disingkirkan karena di dalam batu terdapat prasasti sengkala candra.

(penampakan brahmana berwarna sari). Candra sengkala dengan jelas menunjukkan tahun Jawa 1481, 1559 M, sepuluh tahun setelah kematian Sunan Prawata dan Ki Kalinyamat, termasuk pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat di Jepara. (HJ. De Graff dan Pigeaud)Masjid Mantingan berada satu kompleks dengan makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin. Keseluruhan kompleks Masjid Mantingan adalah 2.935 meter.

Survei arkeologi tahun 2000 berhasil mendokumentasikan Masjid Mantingan. Pada dinding luar masjid terdapat 26 relief dekoratif yang ditempelkan di teras masjid.  Dalam beberapa catatan sejarah disebutkan bahwa Masjid Mantingan dibangun oleh Ratu Kalinyamat sepuluh tahun setelah meninggalnya suami tercinta, Sultan Hadlirin. Hal ini berdasarkan mihrab di masjid terdekat yang dapat disingkirkan karena di dalamnya terdapat batu prasasti sengkala candra.

(penampakan brahmana berwarna sari). Candra sengkala dengan jelas menunjukkan tahun Jawa 1481, 1559 M, sepuluh tahun setelah kematian Sunan Prawata dan Ki Kalinyamat, termasuk pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat di Jepara. (HJ. De Graff dan Pigeaud).Masjid Mantingan berada satu kompleks dengan makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin. Keseluruhan kompleks Masjid Mantingan adalah 2.935 meter. Survei arkeologi tahun 2000 berhasil mendokumentasikan Masjid Mantingan. Pada dinding luar masjid terdapat 26 relief dekoratif yang ditempelkan di teras masjid.

Begitulah keindahan dan sejarah didirikannya Masjid Mantingan. Dengan mendirikan masjid kita dapat beribadah dengan nyaman, begitu pula dengan umat muslim yang tinggal dipelosok daerah di Indonesia yang tidak terdapat masjid disekitar rumah mereka. Kita dapat membangun masjid pedesaan dengan gotong royong menggalang dana dan menyumbangkannya lewat yayasan-yayasan peduli dengan umat muslim didesa.